Jumat, 08 Mei 2009

ADAPTASI PERTANIAN DALAM PEMANASAN GLOBAL



Masih lekat dalam ingatan kita perhelatan akbar UN Summit on Climate Change yang diadakan di Bali pada awal Desember 2007. Konferensi ini menandai kesepahaman internasional akan resiko perubahan cuaca global bagi keberlangsungan kehidupan. Meskipun berbagai kalangan telah merasakan dampak perubahan pemanasan global, namun tampaknya grand design yang nyata dan operasional belum disosialisakan secara luas. Ancaman dan krisis pangan dunia yang menggejala secara global sejak awal 2008 memiliki kaitan sangat erat dengan perubahan iklim global. Ancaman penurunan produksi pangan di berbagai negara oleh perubahan iklim yang memicu banjir, kemarau panjang dan kekeringan, kenaikan suhu, penurunan kualitas lahan dan lain-lain menjadi semakin nyata.


Dampak perubahan iklim pada peningkatan temperatur sebenarnya sudah ditengarai sejak tahun 1990-an. DFID (Department for International Development, badan dari pemerintah Inggeris yang mengurusi bantuan pembangunan untuk negara-negara lain) dan World Bank (2007) melaporkan rata-rata ke-naikan suhu per tahun sebesar 0.3 derajat celsius. Pada tahun 1998 terjadi kenaikan suhu yang luar biasa mencapai 1 derajat celsius. Indonesia diprediksi akan me-ngalami lebih banyak hujan dengan perubahan 2-3 persen per tahun. Intensitas hujan akan meningkat, namun jumlah hari hujan akan semakin pendek. Dampak yang nyata adalah meningkatnya risiko banjir. Secara umum, perubahan cuaca akan memicu kemarau panjang dan penurunan kesuburan tanah. Hal ini akan mempengaruhui kelangsungan produksi pangan secara nasional. Pemanasan global juga mengandung resiko yang besar akan kegegalan panen dan kematian hewan ternak.

Ancaman Produksi Pangan Global warming mempengaruhi pola presipitasi, evaporasi, water run-off, kelembaban tanah dan variasi iklim yang sangat fluktuatif yang secara keseluruhan mengancam keberhasilan produksi pangan. Kajian terkait dampak perubahan iklim pada bidang pertanian oleh National Academy of Science/NAS (2007) menunjukkan bahwa pertanian di Indonesia telah dipengaruhi secara nyata oleh adanya variasi hujan tahunan dan antar tahun yang disebabkan oleh Austral-Asia Monsoon and El Nino-Southern Oscilation (ENSO).
Sebagaimana dilaporkan oleh FAO (1996), kekeringan akibat kemarau panjang yang merupakan efek El Nino pada tahun 1997 telah menyebabkan gagalnya produksi padi dalam skala yang sangat besar yaitu mencakup luasan 426.000 ha. Selain tanaman padi, komoditas pertanian non-pangan yang lain seperti kopi, coklat, karet dan kelapa sawit juga mengalami penurunan produksi yang nyata akibat adanya kemarau panjang. Suatu simuasi model yang dikembangkan oleh UK Meteorgical Office sebagaimana dilaporkan DFID (2007), memprediksikan bahwa perubahan cuaca akan menurunkan produksi pangan di Jawa Barat dan Jawa Timur akibat penurunan kesuburan tanah sebesar 2-8 persen.
Degradasi kesuburan lahan tersebut akan memicu penurunan produksi padi 4 persen per tahun, kedele sebesar 10 persen serta produksi jagung akan mengaklami penurunan luar biasa sampai dengan 50 persen. Menurut laporan Rossane Skirble (2007), perubahan cuaca dan pemanasan global dapat menurunkan produksi pertanian antara 5-20 persen. Negara-negara dengan kondisi geografis yang lebih khusus seperti India dan Afrika akan mengalami penurunan produksi pertanian yang lebih tinggi lagi.

Strategi Adaptasi Sebagaimana disinyalir oleh DFID dan World Bank (2007), Indonesia nampaknya belum menyiapkan secara komprehensif kebijakan dan strategi operasional untuk mengadaptasikan diri terhadap perubahan iklim global. Padahal tindakan ini sangat mendesak untuk berbagai aspek pembangunan, khususnya ketahanan pangan. Beberapa rekomendasi dari World Development Report (2008) antara lain: menanam varitas yang memiliki daya adaptasi tinggi, mengubah masa tanam menyesuaikan cuaca, mempraktekkan pertanian dengan masa tanam yang lebih singkat.
Dalam konteks Indonesia, petani memiliki tingkat kerentanan yang tinggi. Selain karena kepemilikan lahan yang sangat kecil serta lemahnya akses terhadap berbagai input pertanian serta keterbatasan akses pada pasar dan pengolahan hasil pertanian, petani juga memiliki pengetahuan dan ”know how” yang sangat minim tentang strategi adaptasi produksi pertanian terhadap perubahan iklim global.
Tampaknya tidak mungkin bagi petani diharapkan mencari strategi sendiri. Pemerintah sebagai penyedia public goods harus mampu mendukung petani beradaptasi terhadap perubahan iklim global. Berbagai kebijakan yang dapat ditempuh antara lain melalui skema asuransi tanaman dan ternak, penelitian yang intensif serta diseminasi yang terpadu atas berbagai varietas baru komoditas pertanian yang memiliki daya tahan tinggi terhadap kekeringan, banjir, peningkatan temperatur serta memiliki potensi emisi CO2 yang rendah.
Penyediaan informasi cuaca yang akurasinya tinggi dan terintegrasi akan sangat bermanfaat untuk kepentingan produksi pertanian dan juga menjadi kebutuhan yang semakin mendesak. Informasi tersebut mestinya mencakup variasi lokal sehingga dapat diakses oleh petani-petani lokal dan digunakan untuk antisipasi dalam produksi pertaniannya. Pemerintah perlu menyiapkan dukungan berbagai sumber daya baik sumber daya manusia, finasial maupun prasarana untuk mempercepat proses pengembangan berbagai komoditas yang memiliki daya adaptabilitas tinggi terhadap perubahan iklim dan pemanasan global. Kerjasama penelitian dan diseminasi produk antara peneliti di lembaga penelitian, universitas, pusat penelitian private corporation dan NGO dengan melibatkan penyuluh lapangan dan tokoh asosiasi petani sangat perlu dilakukan.

Sumber :
Suberjo, Dosen Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta dan Mahasiswa Doktoral The University of Tokyo
9 Mei 2009
Sumber Gambar :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar