Sabtu, 09 Mei 2009

PEMANASAN GLOBAL DAN PERUBAHAN IKLIM



"Pertanyaannya bukan lagi apakah pemanasan global benar-benar terjadi, tetapi apakah dalam menghadapi situasi darurat ini kita dapat cepat menyesuaikan diri." Kofi Annan, 2006

Perdebatan ilmiah diantara pakar bukan lagi apakah Pemanasan Global terjadi atau hanya hitungan di atas kertas. Fokusnya kini adalah seberapa cepat dan seberapa besar dampak Pemanasan Global. Perubahan yang cepat dan berskala besar ini akan mempengaruhui seluruh kehidupan di bumi. Suhu bumi akan terus meningkat jika tidak mengambil  langkah untukk mengatasinya.
Sejak akhir 1800-an, rata-rata suhu permukaan bumi meningkat 0.74 derajat Celcius.  Diperkirakan akan terus meningkat antara 1,8° C hingga 4° C pada tahun 2100.  Selama 30 tahun terakhir, rata-rata temperatur bumi meningkat sebesar 0,55°C.  Diperkirakan, jika situasi tetap seperti ini, pada 2020 suhu akan meningkat lagi sebesar 0,55°C.Tahun 2006 tercatat sebagai tahun terpanas sejak 1850 (urutan selanjutnya 1998, 2005, 2003, 2002 dan 2004).
Sepertinya peningkatan satu derajat tidak lah terlalu berarti.  Tetapi ingat, zaman Es (Ice Age) ditandai dengan berubahnya suhu hanya 0,12°C-0,24°C. Semakin jelas bahwa, bumi kelelahan mendukung kehidupan 6.3 milyar manusia, menjadi tempat yang sangat berbahaya jika tidak dilakukan langkah pencegahan kenaikan suhunya.
Pemanasan Global diikuti dengan Perubahan Iklim. Tanda-tanda terjadi Perubahan Iklim dapat dilihat dari meningkatnya curah hujan di beberapa bagian bumi, sementara bagian lainnya mengalami musim kering yang berkepanjangan. Hal ini terjadi karena ada perubahan suhu udara dan curah hujan yang terjadi secara bertahap dalam jangka waktu puluhan tahun.
Pemanasan Global terjadi karena energi dari matahari dalam bentuk panas dan cahaya, memanaskan bumi sehingga suhu meningkat.  Sebagian dari panas ini dikembalikan ke angkasa.  Tetapi sebagian besar terperangkap oleh molekul-molekul gas rumah kaca (seperti karbondioksida/CO2, metana/CH4, dinitro oksida/N2O). Tanpa gas rumah kaca, bumi kita akan sangat dingin dan tidak dapat dihuni.
Masalahnya saat ini, terjadi peningkatan gas rumah kaca secara besar-besaran. Sebagian besar merupakan hasil pembakaran, seperti penggunaan bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara), penebangan hutan,  dan prktek-prakstek sistem pertanian tertentu.
Sebelum Revolusi Industri, kandungan CO2 di atmosfir sekitar 280 ppm (part per million).  Kini mencapai, 380 ppm. Semakin banyak molekul gas rumah kaca di atmosfir, semakin meningkat suhu rata-rata permukaan bumi.
Aktivitas manusia terus berjalan, akibatnya emisi gas rumah kaca juga kian meningkat.  Dengan pertumbuhan seperti saat ini, pada 2050 tingkat emisi gas rumah kaca mencapai dua kali lipat dari masa pra industri. Bahkan akan lebih cepat terjadi jika negara seperti India dan China mengikuti pola AS (negara yang menghasilkan seperempat emisi global) dalam pelepasan karbon, yaitu pada 2035.
Dengan tingkat gas rumah kaca yang meningkat dua kali lipat, tampaknya peningkatan rata-rata suhu global sebesar 0,24°C dapat terjadi pada abad ini.
Gas Rumah Kaca dan Efek Rumah Kaca  Gas Rumah Kaca seperti (CO2), (CH4), atau (N2O),  menyelimuti bumi, dan menahan panas matahari di atmosfir.  Akibatnya terjadinya akumulasi panas (atau energi) yang semakin tinggi.  Bayangkan saat kita berada di dalam rumah kaca yang suhunya lebih hangat karena kaca menyebabkan panas terperangkap di dalamnya.  Akumulasi panas yang berlebihan di atmosfir bumi membuat iklim berubah.
Enam gas Rumah Kaca yang harus diturunkan emisinya, adalah:
  • • Karbon dioksida (CO2);
  • • Methana (CH4);
  • • Nitrogen Oksida (N2O);
  • • Hydrofluorocarbons (HFCs);
  • • Perfluorocarbons (PFCs); dan
  • • Sulphur hexafluoride (SF6)
Dampak Perubahan Iklim   Saat suhu permukaan bumi terus meningkat, berbagai bencana akan terjadi pada bumi dan kehidupan kita, diantaranya:
  • Air bersih susah didapat (hanya 1 dari 5 penduduk dunia yang dapat memperoleh air bersih). Diperkirakan kondisi ini semakin buruk pada 2080, saat itu sekitar 3 milyar orang kekurangan air bersih,
  • Sekitar 20-30% spesies menghadapi kepunahan. 
  • Mencairnya hamparan es di Greenland mengakibatkan peningkatan tinggi permukaan air laut sekitar 6 meter.  Untuk menghadapi hal ini, sejumlah negara seperti Belanda sudah menggelar kompetisi merancang rumah terapung.
  • Banjir menggenangi kawasan dataran rendah yang merupakan kawasan lahan subur untuk pertanian seperti Bangladesh, Maldives,dan lokasi kota-kota di pinggir pantai seperti Jakarta.
  • Semakin tingginya frekuensi dan intensitas hujan badai dan angin topan
  • Terjadi migrasi besar-besaran karena banyak wilayah tidak dapat menopang kehidupan
  • Ancaman terhadap kesehatan manusia.  Ledakan berbagai penyakit tropis seperti malaria dan demam berdarah. Di Eropa pada 2003 saja, sekitar 20.000-30.000 orang kehilangan nyawa karena gelombang panas.   
  • Proses penggurunan karena kekeringan yang berkepanjangan
  • Gagal panen akibat kekeringan sehingga terjadi kelaparan besar-besaran.  
  • Terjadi pengungsian besar-besan akibat hilangnya mata pencaharian.
  •  Nelayan sulit mendapatkan ikan karena kerusakan terumbu karang di seluruh dunia akibat suhu air laut meningkat.
  • Kebakaran hutan semakin sering terjadi.
  • Kenaikan suhu ekstrim di beberapa wilayah.  Seperti suhu di Kalimantan yang biasanya sekitar 35°C, naik menjadi 39°C. di Sumatra, dari suhu rata-rata 33-34°C menjadi 37°C.  Sementara Jakarta dari 32-34°C berubah menjadi 36°C.
Fakta-fakta dasar ini sangat akrab dengan sebagian besar masyarakat, terutama masyarakat di Negara berkembang yang harus segera beradaptasi demi kelangsungan hidup mereka. Pemanasan global dan perubahan iklim mempersulit kehidupan masyarakat rentan, padahal sumbangan mereka terhadap emisi gas rumah kaca sangat sedikit dibandingkan Negara-negara indusri.
Pemanasan Global dan perubahan Iklim yang menyertainya merupakan masalah modern yang sangat rumit, untuk dapat mengatasinya harus melihat secara menyeluruh, masalah kemiskinan, pembangunan ekonomi global dan pertambahan populasi.  Tidak mudah mengatasinya.  Terlebih lagi saat dimensi keadilan ditinggalkan.
Tetapi mengabaikannya, dalam berbagai tingkatan akan menjadikan kondisi ini lebih buruk lagi. Saatnya bertindak, mulai sekarang..  

Sumber :
9 Mei 2009

Sumber Gambar :

3 komentar: